Site icon UPTD SMP Negeri 2 Topoyo

TES MEMBACA LEVEL INTERVENSI

 

03:00
 

CANGKIR EMAS

Gemercik suara air di sekitar Danau Toba terdengar sayup- sayup. Danau Toba yang terletak di antara perbukitan ditumbuhi pohon-pohon(20) rindang. Beragam pohon tumbuh dengan subur menambah keasrian pemandangan alamnya. Beberapa burung yang hinggap di dahan pohon berkicau dengan merdu(40). Embusan angin menambah sejuk udara di pagi hari. Langit masih diselimuti kegelapan. Matahari belum juga memancarkan sinarnya, seakan masih ingin tidur(60) dengan nyenyak. Semilir angin masih terus berembus hingga akhirnya pelan-pelan matahari menampakkan sinarnya.Di wilayah dekat Danau Toba, ada(80) beberapa kerajaan. Salah satu kerajaan itu adalah kerajaan yang dipimpin oleh Raja Puraja Nadim. Kerajaan itu juga mempunyai panglima yang(100) bernama Panglima Laut. Ia dikenal mempunyai sifat rendah hati dan sopan. Suatu hari wajah Panglima Laut sangat murung. Istrinya, Mutia(120), baru saja meletakkan sepiring ketan bercampur durian di atas balai- balai di hadapan Panglima. Mutia langsung duduk di hadapan Panglima(140) dan mengajaknya bicara.

Ada   apa   wajahmu   murung   dan   tidak        bersemangat.    Apa         yangmenganggu pikiranmu, Pak?” tanya Mutia.

“Begini, kemarin saya(160) didatangi utusan Raja Puraja Nadim. Utusan itu terdiri atas tiga orang hulubalang raja. Mereka mengatakan bahwa saya diperintahkan untuk mencari(180) cangkir emas yang hilang,” ucap Panglima Laut dengan wajah sedih. Ketika mendengar ucapan Panglima, Mutia sangat kaget. Ia bingung dan(200) ingin marah, tetapi harus menerima tugas dari raja dengan baik. Mutia duduk bersandar. Mata memandang lurus ke depan. Pikirannya tertuju(220) ke banyak hal. Bagaimana cangkir emas dapat ditemukan. Cangkir emas merupakan benda yang tidak terlalu besar dan dapat disembunyikan di(240) manapun. Bahkan bisa disembunyikan di balik baju atau selendang.

“Selain keluarga raja, ada beberapa orang yang tinggal di istana. Dayang(260), penjaga, tamu raja, dan masih banyak lagi, tetapi siapa yang kira-kira mengambil cangkir emas itu.” Pikir Mutia sejenak. “Jadi(280),  bagaimana?                   Apa                yang  kita lakukan?                   Kau                harus melaksanakan tugas itu. Lalu, bagaimana kalau cangkir itu tidak kau temukan?” tanya Mutia(300).

“Itulah yang kupikirkan sekarang ini, Bu! Aku teringat si Lopak. Ibu ingat si Lopak, yang rumahnya di ujung jalan sebelah kanan dekat pematang itu?” ucap Pangulima. “Si Lopak siapa?”

Exit mobile version