03:00

KAYU AJAIB

Tahun ini adalah tahun yang menyenangkan bagi keluarga Pak Ngadiran. Anaknya, Sudar dan Yani, mendapatkan beasiswa. Tahun ini pula rezekinya(20) lancar sehingga tabungan yang terkumpul cukup banyak. Sudar kelas tiga SMP, sedangkan Yani kelas enam SD. Pak Ngadiran sadar bahwa(40) sampai anak- anaknya menginjak usia remaja, belum pernah sekali pun dua anaknya tersebut diajak piknik. Ia ingin seperti keluarga lain(60) yang bisa membahagiakan anak- anaknya. Kali ini, ia ingin berlibur sekeluarga.

“Anak-anakku, aku dan ibumu punya rencana piknik dengan(80) kalian.”

“Hore!” teriak Yani.Wajah Sudar bersinar dalam cahaya lampu sepuluh watt. Ruang keluarga yang tak begitu luas itu jadi terasa(100) melegakan bagi hari-hari mereka yang penat. Bu Sri tersenyum melihat dua anaknya yang kentara semringah.

“Libur telah tiba, libur(120) telah tiba, hatiku gembira. Hore…!” Yani menyanyi lagu

A.T. Mahmud tak henti -henti.

“Menurut kalian, tempat mana yang enak dijadikan tempat(140) piknik?” tanya Bu Sri. Mereka terdiam. Ruangan sepi untuk beberapa saat.

“Sekarang, kalian saja yang menentukan tempatnya. Kira-kira tempat(160) wisata mana yang menyenangkan buat berlibur kita,” kata Pak Ngadiran.

“Di pantai saja. Gunung Kidul ‘kan banyak pantai yang bagus(180). Ada Baron, Kukup, Krakal, Sundak, Drini,

Sadeng, Siung. Tinggal pilih mana?” usul Sudar. “Ah, aku sudah pernah. Yang lain saja(200)!” sela Yani.

“Kamu punya pilihan lain, Yani?” tanya Pak Ngadiran. “Mungkin ke Jogja saja. Di Yogya ‘kan banyak

tempat wisata(220). Ada keraton, Malioboro, Tamansari, Kaliurang, Candi Boko, Candi Prambanan, kebun binatang.”

“Bagimana, Sudar, dengan usul adikmu?”

“Waktu study tour kemarin(240), saya piknik ke sana. Yang lain ah…,” timpal Sudar tak mau kalah.

“Di Jogja saja, Pak!” “Gunung Kidul!” “Jogja!” “Gunung…” “Sudah(260), sudah, jangan bertengkar,” kata Bu Sri melerai.

“Bagaimana ini baiknya, Pak?”

“Sudar, Yani, kalian ‘kan bersaudara. Kalau ada perbedaan atau(280) masalah ya dibicarakan baik-baik. Di sekolah ‘kan ada pelajaran musyawarah. Terapkan itu.”

“Ya, Pak,” kata Sudar dan Yani sambil(300) menunduk.

“Tempat wisata mana pun itu baik. Di Gunung Kidul bagus dan indah. Di Jogja juga sama kukira,” lanjut Pak Ngadiran(320).

“Tadi saya hanya usul kok, Pak.”

“Kalau Bapak dan Ibu sendiri baiknya di mana?” tanya Yani nyeletuk. Kali ini, Pak(340) Ngadiran dan Bu Sri berpandangan.

“Jujur saja, di antara aku dengan ibumu belum ada kata sepakat. Seperti juga kalian tadi(360). Aku ingin di Jogja, tetapi ibumu di Gunung Kidul saja.”

“Betul, anak-anakku. Rencananya, tadinya dengan usul kalian akan ada(380) kata sepakat. Ternyata suaranya sama,” tambah Bu Sri.

“Berarti, bagaimana dengan rencana piknik kita?” tanya Yani tak sabar. “Sepertinya tidak(380) jadi pinik ini,” goda Sudar sambil memencet hidung Yani. “Jadi!” sahut Yani.

“Ya ya, tentu piknik kita jadi. Akan tetapi(400), kalian punya PR. Kalian harus punya kesepakatan tujuan piknik kita. Aku dan ibumu ikut keputusan kalian. Setuju?”

“Asyik!” Yani bersorak

Sudah(420) beberapa buku dibaca Sudar. Buku-buku itu berkaitan dengan tempat- tempat wisata yang ada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Semua(440 menawan, punya keunggulan masing-masing. Makin dipertimbangkan, Sudar makin bingung menentukan pilihan. Nanti kalau sudah menentukan tempat wisata yang akan dituju(460), tentu harus ada alasan tepat agar orang tuanya bersepakat. Alasan- alasan itu berkaitan juga dengan anggaran, akses lokasi wisata, menambah(480) wawasan apa tidak, dan lain-lain. Yani tampaknya juga mengalami kebingungan. Kalau dipikir-pikir, semua tempat wisata itu baik dan menyenangkan(500). Setelah direnungkan, ia akan ikut dengan usul kakaknya saja. Toh, piknik ini adalah piknik untuk semua anggota keluarga. Semua(520) harus merasakan bahagia. “Sudah menemukan tempat pikniknya, Mas?”(507)